Gunung tinggi seolah menghimpit dadaku, lahar panas seolah mau meluap dari dalam dadaku, deburan ombak seolah tertahan ditenggorokanku. Perlahan aku seka darah yang bercampur air ludah di tepi bibirku. Mataku sedikit terbelalak, urat urat di keningku mengencang dan sedikit nyata diatas kulit tipis keningku tatkala ku tatap darah yang kini di telapak tanganku. Badanku menggigil, seolah ada magnet yang sangat besar berada di atas kepalaku dan mencoba menarik roh dari badanku melalui ubun ubunku.
“APAKAH AKU SEKARAT TUHAN?” batinku bicara
Tepat satu tahun yang lalu aku berhenti total menghisap yang namanya rokok. Selain alasan kesehatan, aku hanya tidak ingin melihat ibuku yang sudah menginjak usia tua sama sekali tidak menyapaku berhari hari jika ia memergokiku sedang merokok. Sebenarnya aku sudah kecanduan dengan rokok sejak aku duduk di bangku SMU dulu. Namun ibu baru mengetahui jika aku seorang perokok berat ketika aku kuliah. Ibu awalnya selalu memarahi dan menasehatiku jika ia memergokiku sedang menghisap rokok, namun karena aku tidak bisa berhenti berhenti juga dari kecanduanku akan rokok maka ibu memilih untuk mogok bicara denganku sampai berhari hari.
Harus kuakui sangatlah sulit bagiku untuk lepas dari jerat ketergantungan akan rokok. Persetan dengan apa kata orang tentang bahaya rokok, karena buatku rokok bukan sekedar lintingan tembakau yang dihisap lalu menyebabkan kecanduan. Rokok adalah sahabat setia sekaligus sahabat sejatiku dan juga sebagai obat stress bagiku setiap kali ada masalah yang tidak bisa ku share dengan orang lain. Rokok selalu setia menemaniku kemanapun dan dalam situasi apapun. Di pagi hari ketika secangkir kopi terasa pahit, menjadi nikmat karena diselingi dengan sebatang rokok. Di malam hari ketika semua jiwa terlelap dalam tidur dan tak ada satupun yang mau menemaniku bergadang, rokok tidak pernah mengedipkan matanya untuk membiarkanku menunggu rasa kantuk datang menelan sadarku. Rokok tidak pernah banyak tanya akan semua keputusan salah yang aku ambil, dan rokok selalu punya telinga yang lebar untuk mendengarkan semua cerita masalahku. Dalam sehari minimal aku bisa menghabiskan dua bungkus rokok, yah kalo meleset sedikit bisa jadi tiga bungkus sehari. Itulah aku yang dulu seorang ROKOK ADDICT!
Setelah berhenti merokok baru kusadari, ternyata yang membuatku sukar berhenti merokok selama ini bukanlah rasa kecanduan akan nikotin dari rokok, melainkan merokok sudah menjadi kebiasaan dan pola hidup. Sekarang aku jadi sering bengong mengisi saat senggang sepanjang hari hariku. Biasanya ada rokok menemani secangkir kopiku, biasanya ada rokok sehabis makanku, biasanya ada rokok ketika jenuh menghampiri, biasanya ada rokok yang menambah keakraban dalam obrolanku dengan sahabat, dan masih banyak lagi kebiasaanku yang kini tak diwarnai rokok.
Setengah tahun lebih aku jalani hidup tanpa ketergantungan akan rokok, hingga saat saat naas itu tiba.
Usahaku tiba tiba anjlok dan merosot tajam, bahkan untuk membayar gaji gaji karyawan aku sampai kelimpungan mencairkan tabungan dan depositoku. Satu demi satu teman dan mitra bisnisku menjauhiku karena kini aku tengah berada di tepi jurang kebangkrutan. Kepalaku seperti mau meledak memikirkan dan mencari solusi dari masalahku kali ini. Teman yang biasanya tempatku bertukar pikiran kini entah kemana setelah aku seperti ini. Ingin sekali aku bercerita kepada ibu tentang semua masalahku ini, namun ku tahan karena aku tak ingin membuat ia bersedih. Jika ibu bersedih itu hanya akan menambah bebanku sebagai anak, bukannya membahagiakan dihari tuanya, malah aku menambahi beban pikirannya.
Saat seperti inilah hanya satu yang bisa menemani dan berbagi masalah yang sedang kuhadapi, apalagi kalo bukan ROKOK. Dari membuka bungkusnya saja aku sudah merasakan sedikit bebanku hilang, apalagi ketika kuhisap asapnya dalam dalam, kutahan sejenak dan kuhembuskan kembali, aku merasa sebagian bebanku pun tertiup pergi bersama asap asap itu. Satu dua tiga batang bahkan satu bungkus tidaklah menunggu waktu yang begitu lama untuk kuhabiskan rokok rokok ini sambil minum kopi dan pikiran menerawang jauh entah kemana.
Hari berganti aku semakin menjadi perokok berat jauh jauh lebih berat dari sebelum aku berhenti merokok. Sekarang aku bisa menghabiskan sampai lima bungkus sehari, ditambah aku jarang makan dan tidur karena pusing memikirkan masalah yang tengah ku hadapi. Namun mulut dan pikiranku mungkin kuat menghisap berapapun batang rokok yang ku punya, tapi ternyata tidak demikian dengan tubuh dan paru paruku, akhirnya sebulan yang lalu aku terkulai dan harus dirawat di rumah sakit.
Sudah bisa diramalkan, rokok kuat, makan dan tidur jarang kalo tidak sakit tipes yah paling paru paru. Dokter sambil memakai masker mengatakan padaku “ Paru paru anda sudah hitam dan berlobang lobang pak”. Sebenarnya si dokter bicara banyak tentang sakitku, tapi lantaran kata kata pertamanya tadi pikiran sudah melayang layang dan aku sudah tidak menyimak lagi apa yang dia katakan. Selama di rumah sakit hanya ibu seorang yang dengan setia menjagaku, tak satupun dari teman temanku yang datang menengok. Ibu tak banyak bicara, namun jelas terlihat garis kesedihan dan kemarahan tertahan diwajahnya. Melihat ibu seperti itu hatiku ingin sekali menangis rasanya, namun aku tak ingin ibu melihatnya, akhirnya ku balikkan badan dan ku tutup kepalaku dengan bantal.
Setelah hampir satu bulan dirawat akhirnya aku diizinkan pulang tapi tetap dalam masa perawatan. Ketika keluar ruangan rumah sakit aku sempat membaca tulisan yang dibingkai di dinding, tulisannya “ SMOKERS NEVER GROW OLD, THEY DIE YOUNG “, sambil tersenyum aku berlalu pergi.
Hampir satu minggu dirumah rutinitasku hanya kasur TV toilet, dan kejenuhan mulai menggerogotiku. Suatu hari ketika aku sedang beres beres mejaku tanpa sengaja aku menemukan bungkus rokok di dalam laci. Aku terdiam sesaat dan menatap dalam dalam bungkusan rokok yang ada dihadapanku. Tanpa diperintahkan jari jemariku langsung membuka bungkus rokok itu dan ternyata didalamnya masih ada dua batang tersisa. Entah karena reflek atau entah karena aku sudah bosan hidup, tiba tiba saja sebatang rokok itu sudah menempel indah dibibirku dan jari tangan kananku dengan lincahnya menekan pemantik api. Ku hisap dalam dalam asapnya, bahkan bila perlu ku telan semua asapnya tanpa tersisa.
Tak terasa satu batang rokok itupun sudah hampir habis, dan tanpa kusadari dibelakangku seseorang sambil memegang gagang pintu rupanya menatapku sedari tadi. Matanya merah, pipinya basah karena air mata dan nafasnya tersengal sengal karena menahan tangis. Sontak aku seperti disambar petir, aku hanya bisa terdiam dan membisu melihat ibu kemudian dengan pelan menutup kembali pintu kamarku dan beranjak pergi.
Sore harinya…
Gunung tinggi seolah menghimpit dadaku, lahar panas seolah mau meluap dari dalam dadaku, deburan ombak seolah tertahan ditenggorokanku. Perlahan aku seka darah yang bercampur air ludah di tepi bibirku. Mataku sedikit terbelalak, urat urat di keningku mengencang dan sedikit nyata diatas kulit tipis keningku tatkala ku tatap darah yang kini di telapak tanganku. Badanku menggigil, seolah ada magnet yang sangat besar berada diatas kepalaku dan mencoba menarik roh dari badanku melalui ubun ubunku.
“APAKAH AKU SEKARAT TUHAN?” batinku bicara
Sambil terbatuk batuk aku mencoba berdiri dari tempat tidur dan menuju teras rumah untuk mencari udara segar. Udara diteras rumah mungkin saja segar, namun bagiku tetap saja seperti ribuan jarum yang menusuk nusuk dadaku. Akhirnya kusandarkan badanku di kursi, dan tak lama kemudian mataku rasanya sangatlah berat dan akupun tertidur. Entah berapa lama aku tertidur diteras, tiba tiba aku terbangun karena ramai suara orang dan ramai suara isak tangis. Ku lihat wajah wajah yang tidak asing bagiku, mereka saudara saudara ayah ibuku dan beberapa orang tetangga rumah. Keningku mengeryit, tiba tiba pikiranku menjadi liar dan orang yang aku pikirkan saat itu hanya satu. “Ibuuuuuuuuu! Buuuuuuuu!” Teriakku sambil masuk dan mencari cari ibu. Aku sangat khawatir jangan jangan terjadi sesuatu dengan ibu, aku terus berteriak teriak namun semua orang mengacuhkan teriakanku. Dan benar saja diruang tamu Nampak sesosok tubuh terbujur kaku dan diselimuti dengan kain. Disebelahnya Nampak pamanku sedang membacakan surat Yasin dan berdoa. Belum terlihat jelas wajah sesosok tubuh itu namun lututku rasanya bergetar lunglai seakan tak sanggup lagi menahan tubuhku. Lalu dengan perlahan aku hampiri sesosok tubuh yang sudah tak bernyawa itu dan aku bersimpuh disebelahnya. Tiba tiba dipojok ruangan terdengar suara tangisan histeris yang memilukan dari seorang perempuan. Aku terkejut karena aku kenal sekali dengan suara itu. Lalu aku berdiri dan melihat kearah sumber suara tangis itu. Benar saja, disana kulihat ibu sedang menangis sejadi jadinya sambil dipegangi dan dipeluk oleh bibiku.
“LANTAS TUBUH SIAPA YANG TERBUJUR KAKU INI?” hatiku berujar
Perlahan namun dengan seksama aku memperhatikan wajah dari tubuh yang terbujur kaku dilantai itu. Wajahnya begitu pucat, bekas darah mengalir dari tepi bibirnya masih terlihat samar. Aku hanya bisa tertegun, tubuhku seperti luluh dan berlahan mulai sirna sedikit demi sedikit. Namun sebelum aku sirna sepenuhnya sempat kulihat wajah ibuku yang masih menangis.
Cek disini untuk membaca cerita FIKSI lainnya

11 May, 2013 at 5:54 am
Ketipu nih,,kirain kisah beneran..hehehe..mantab bro!!!
26 April, 2013 at 2:18 am
Kirain berhenti ngerokok beneran..
21 April, 2013 at 1:55 am
keren
23 April, 2013 at 12:48 am
makasih mba
18 April, 2013 at 2:44 am
tak kirain beneran…ternyata ini FIKSI ya…
kereeen euy cerita fiksinya…
Lanjutkan bung…!! Heheheh
18 April, 2013 at 5:37 am
hehe thanx sofi
16 April, 2013 at 6:16 am
keren ceritanya
18 April, 2013 at 5:37 am
thanx mba nanik
15 April, 2013 at 3:15 pm
Wow jago buat cerita fiksi juga rupanya ^_^
Ah jadi pengen buat cerpen juga ^^
18 April, 2013 at 5:37 am
makasih Uni
15 April, 2013 at 2:02 pm
salah satu cara menghindari rokok adalah bergaul dengan teman yang gak ngerokok , pasti berkurang sendirinya
*pengalaman pribadi*
blogwalking
18 April, 2013 at 5:36 am
thanx mas untuk tipsnya
13 April, 2013 at 10:31 pm
sudah beneran berhenti merokok sekarang? selamat ya
14 April, 2013 at 12:24 am
beloooom
LOL
13 April, 2013 at 4:28 am
yakin ini cerita fiksi?
Yakin? #wajah penuh tanda tanya#
Not based on your own story?
Mas ronal ngerokok juga? jika iya.. berhenti akan lebih baik
13 April, 2013 at 2:36 pm
kalo my own story berarti aku dah gak ada dong mba hehe
12 April, 2013 at 2:07 pm
kalau enggak paham dengan fiksi pasti bingung baca postingan ni dan berkata, ini gimana ya ceritanya hahahaha
salam kenal ya mas
13 April, 2013 at 2:36 pm
salam kenal kembali mas
11 April, 2013 at 3:57 pm
Jadi ceritanya spt yg tergambar di film ya Nal, arwah melayang terus bisa lihat trubuhnya sendiri dr atas ?
11 April, 2013 at 11:11 pm
namanya juga fiksi el
12 April, 2013 at 8:45 am
btw, aku nanya ttg blog lewat imel Nal, trims
13 April, 2013 at 2:36 pm
oke el aku cek…
12 April, 2013 at 6:18 am
nggak ada yg nanya Nal, itu fiksi apa ngak *dilemparklepon*
18 April, 2013 at 5:38 am
hehe…fiksi beneran el
11 April, 2013 at 10:41 am
Rokok emang bahaya, tapi sulit menghindarinya
11 April, 2013 at 11:10 pm
pasti komentnya sambil merokok
xixxi
20 November, 2012 at 12:49 pm
wayo..kan…uda dibilangin…
20 November, 2012 at 3:02 pm
11 October, 2012 at 1:25 pm
mending buat jajan papanya ded
13 July, 2012 at 1:43 pm
Mending Buat Beli Susu atau Jajan Anak Om…
29 June, 2012 at 12:37 pm
ferry : wkwkkwk..ngudut kuday coy
29 June, 2012 at 12:34 pm
gue kan udah sering bilang ke elo bang, gak usah merokok lagi, hahah
29 June, 2012 at 3:51 am
wiwiiiin……itu bukan copy paste win….cerpen fiksi ini bikinanku win huhuhhuu
29 June, 2012 at 3:48 am
makanya berhenti Merokok nal, jgn asal copy paste trus gak diterapin..itu namanya konyol…hehehhehe
idup sekali kok dibakar ma rokok…
bagiku orang gila lah yang merokok itu, dan yang tambah gila adalah orang-orang yang merokok di sembarang tempat tanpa melihat kiri kanan..pengen kutabokin kalo liat orang merokok apalagi di deket anak ku … huh !!!